Tahapan Manusia Dalam Menghadapi Kehilangan

besoklusa.one – tiap tiap orang membuka langkah tidak sama dalam hadapi duka, tetapi para ahli menyebut ada lima langkah lazim yang dialami usai kehilangan.
Konsep ini pertama kali diperkenalkan oleh seorang psikiater, Elisabeth Kübler-Ross didalam bukunya “On Death plus Dying” dan sampai kini masih merasa rujukan.
Dilansir berasal dari Harvard Health, grief atau rasa duka tidak sebatas muncul dikarenakan kematian orang terkasih. Kehilangan pekerjaan, putus jalinan sampai pergantian hidup besar lainnya terhitung bisa menyebabkan duka mendalam.
Emosi yang muncul pun dapat bercampur aduk, dari penolakan, kemarahan, hingga akhirnya penerimaan. Meski lima bagian grief sering digambarkan berurutan, sebetulnya sistem ini tidak linear.
Ada orang yang melompat dari satu fase ke fase lain, hadir termasuk yang tidak mengalami segalanya sedangkan kerangka ini berikan deskripsi bagaimana manusia berusaha bertahan menghadapi luka.
Dalam prosesnya, duka bukan sesuatu yang kudu dipercepat atau ditekan. Sebaliknya, penting untuk berikan area pada emosi yang nampak sembari mencari dukungan dari orang terdekat maupun tenaga profesional andaikan dirasa perlu.
1. Denial
Tahap awal duka kebanyakan ditandai bersama penolakan terhadap kenyataan. Denial bukan menandakan tidak menyadari melainkan bentuk mekanisme pertahanan diri untuk meredam rasa sakit yang tiba-tiba datang.
Misalnya, menolak menerima berita kematian, menghindari perbincangan soal kehilangan, atau yakin kabar berikut tidak benar.
Meskipun tampak seperti pelarian, tahap ini justru bisa menolong seseorang mengatur diri secara perlahan dengan kenyataan yang menyakitkan. bersamaan saat penolakan akan mereda dan berikan area antara langkah berikutnya.
2. Anger
Setelah menyadari kenyataan, rasa marah atau angker kerap terlihat Amarah ini bisa diarahkan pada diri sendiri, keluarga, tenaga medis, lebih-lebih pada Tuhan atau orang yang sudah tak ada
Misalnya menyalahkan dokter dikarenakan tidak bisa menyelamatkan, atau menyesali diri sendiri gara-gara jadi kurang perhatian.
Menurut ahli amarah adalah ekspresi normal dari duka. Meski dapat menyakitkan bagi orang kira-kira sesungguhnya kemarahan sekedar wujud berasal dari rasa kehilangan yang mendalam. penting untuk menyadari bahwa fase ini jatah alami dari sistem berduka.
3. Bargaining
Pada langkah ini, terlihat asumsi “seandainya” atau “kalau saja.” Banyak orang mengupayakan menegosiasikan kondisi bersama dengan diri sendiri maupun dengan Tuhan, berharap hasil yang berbeda
Misalnya, “Kalau saja saya lebih cepat membawanya ke dokter, dia pasti selamat.” Bargaining sering kali tidak rasional, namun muncul dari rasa tidak berdaya.
Meski tidak merubah kenyataan, fase ini pertanda seseorang tetapi berusaha sadari dan melacak pengecekan di dalam keadaan penuh ketidakpastian.
4. Depression
Kesedihan mendalam kebanyakan keluar sehabis fase tawar-menawar. Rasa hampa, kehilangan minat pada kegiatan problem tidur, sampai rasa bersalah adalah tanda-tanda yang lazim
Dalam jangka pendek, ini merupakan respons alami terhadap duka. namun jika rasa sedih berlarut lebih dari setahun dan mengganggu kegunaan kehidupan sehari-hari, kondisi ini dapat berkembang jadi prolonged grief disorder yang berbentuk medis dan butuh penanganan profesional.
Dukungan keluarga, konseling, atau terapi sangat penting antara tahap ini.
5. Acceptance
Tahap terakhir adalah menerima kenyataan kehilangan. Ini bukan menandakan rasa sedih hilang seluruhnya melainkan kekuatan untuk hidup berdampingan bersama dengan duka.
Pada fase ini, seseorang terasa fokus merayakan kehidupan orang yang udah tidak ada menjunjung kenangan, dan perlahan menyusun siasat baru ke depan.
Acceptance memberi area untuk berdamai dengan rasa kehilangan, meski tidak enteng Penerimaan menjadi titik awal untuk mendapatkan harapan dan kapabilitas lagi